|
|
|
|
|
|
|
|
 |
Tinggalkanlah Tanah Airmu !Kapan dan bagaimana Freinademetz pertama kalinya mendengar suara panggilan Tuhan untuk menjadi misionaris, kita tidak tahu dengan pasti. Bahkan kita heran bahwa dia memilih jalan hidup ini. Waktu itu, kira-kira 150 tahun lalu, di Jerman dan Austria (Tirol Selatan termasuk negara Austri), orang belum tahu banyak mengenai Misi. Majalah-majalah tentang Misi juga belum tersebar luas. Hampir tak ada orang yang mencari calon-calon muda di sekolah-sekolah atau paroki-paroki, yang bercita-cita untuk menyebarkan Injul. Tapi pada saat yang tepat Tuhan Maha penyelenggara memimpim dan memanggil calon misionaris yang sudah diberikan-Nya persiapan yang amat berharga di rumah orang-tua untuk tugas hidupnya.
Waktu masih kecil, Seppl - demikian nama kecilnya - menonjol sebagai anak yang saleh, bersifat baik dan peramah. Dalam Sekolah Dasar dia terkenal sebagai anak yang berbakat dan rajin, sehingga dia dianggap murid terbaik di kelasnya. Pastor dan gurunya merasa tertarik padanya. Cukup satu pertanyaan singkat dan hanya perlu satu anjuran apakah dia mau pergi belajar di Brixen untuk menjadi imam? Ya, ia suka sekali! Tapi kota keuskupan itu terlalu jauh. Dan perlu banyak uang untuk ongkos studi. Orang-tuanya, petani-petani gunung dengan sembilan anak yang sedang bertumbuh besar, tidak mempunyai uang itu. Dan meskipun dia rajin dan berbakat, tapi studi juga tidak ringan baginya, karena di rumah mereka hanya berbahasa Ladini. Di Sekoilah Dasar dan di gereja di belajar sedikit bahasa Italia. Bahasa Jerman hampir tidak lebih dari pada untuk membaca sejak dia duduk di kelas tiga. Tapi akhirnya, dengan bantuan orang-orang yang baik hati, semua kesulitan dapat diatasi.
Dalam musim gugur 1862 seorang tukang tenun dari Sottru bernama Mathias Thaler - satu-satunya tetangga yang mempunyai sedikit lebih pengetahuan bahasa dan berpengalaman luas, mengajak Seppl yang berumur sepuluh tahun untuk pergi berjalan kaki sebelas jam melewati gunung-gunung ke Brixen. Tempat ini akan menjadi kampung halamannya yang ke dua selama banyak tahun. Waktu itu dioses Brixen meliputi juga dioses Innsbruck dan Feldkirch sekarang, selanjutnya daerah Cortina d^Ampezzo dan Buchenstein, tapi tidak termasuk Bozen dengan sebagian dioses Trient yang waktu itu masuk wilayah Jerman. Brixen, kota tempat tinggal Uskup dari satu dioses yang sangat luas, merupakan sebuah pusat rohani yang penting, yang telah menghasilkan pemimpin-pemimpin Gereja dan profesoprofesor yang masyur. Furstbischof Vinzenz Gasser adalah pelopor dalam Komisi Dogmatis Konsili Vatikan I dalam tahun 1869. Paus Pius IX menyebutnya satu dari tiang-tiang konsili. Dari seminari ini telah muncul banyak uskup-uskup, juga untuk dioses-dioses di Austria. Selanjutnya terdapat satu barisan panjang para rohaniwan dari Brixen sebagai seniman atau penulis yang penting dalam kehidupan rohani di zaman mereka.
Di Brixen, lebih dari tempat-tempat lain, pada waktu itu orang sudah menaruh perhatian pada tugas Misi Gereja. Daniele Comboni dari Varona tidak jarang mencari di sini calon-calon untuk misinya di Afrika. Juga di sini didirikan sebuah cabang dari karyanya dalam tahun 1895. Dan Arnoldus Yanssen, pendiri serikat misi di Steyl, mempunyai sahabat-sahabat dan sponsor-sponsor pada seminari di Brixen. Sebelum mendirikan rumah misi pertama untuk umat Katolik Jerman dan Austria, dia pergi menghadap uskup-uskup dari wilayah yang berbahasa Jerman. Kepada mereka dia menyodorkan rencananya dan meminta berkat mereka. Dia bertemu juga dengan uskup Gasser di Innsbruck. Uskup itu memberikan kepadanya sepucuk surat rekomendasi yang simpatik pada tanggal 6 Mei 1895. Antara lain ditekankan bahwa "rencana Pastor Yanssen itu bukan saja perlu utnuk kepentingan gereja, tetapi sesuai dengan kebutuhan zaman mengingat situasi Gereja yang menyedihkan saat itu di Jerman (berhubungan dengan adanya Kulturkampf). Memang sejak dahulu kala penghambatan-penghambatan terhadap gereja, ibarat badai yang tidak hanya membuat batang pohon menjadi kuat, melainkan juga membantu menyebarluaskan benihnya."
Yang menjadi pengajar dan direktur studi Freinademetz pada gymnasium di Brixen adalah Chrysostomus Mitterrutzner, yang mendirikan kembali serikat Chorherrn, dan adalah sahabat dan sponsor yang besar bagi misi di Afrika. Pertama-tama Freinademetz mulai berdoa untuk memperoleh rahmat panggilan misionernya. Dia sendiri menulis tentang itu dalam suratnya pada tahun 1890 kepada seorang sanak keluarganya, Pater Freinademetz, yang kemudian menjadi deken di Cortina d'Ampezzo, dan waktu itu belajar di Brixen : "Sekarang engkau sudah boleh mulai berdoa untuk memohon rahmat panggilanmu menjadi misioner, seperti saya sendiri sudah buata waktu saya masih seorang pelajar muda seperti engkau sekarang sekang." Panggilan untuk menjadi misionaris itu sampai padanya bagaikan biji benih berupa perkataan Alkitab yang diucapkan oleh sang Pengkhotbah sebagai suatu permohonan kaum kafir untuk memperoleh kebenaran dan rahmat : "Anak-anak berteriak-teriak minta roti, tapi tak ada seorang yang membagikannya kepada mereka" (Nyanyian Ratapan 4,4).
Pikiran akan seruan orang-orang kafir itu tidak dilepaskannya. Freinademetz membiacarakan soal itu dengan kawan-kawannya. Sebagai mahasiswa dia membawakan sebuah khotbah latihan dan menguraikan tentang kekurangan materiil dan spirituil orang-orang kafir itu dan tentang seruan mereka meminta bantuan. Kendati demikian, untuk sementara waktu, mungkin atas nasehat seorang pembimbing rohaninya, dia menyisihkan pikiran untuk menjadi misionaris itu. Dia kan belajar untuk diosesnya, jadi lebih dulu dia ingin menguji panggilannya itu.
Sesudah ujian akhir SMTA dalam tahun 1872, dia masuk seminari tinggi dioses. Pada tanggal 25 Juli 1875 dia menerima tahbisan imam dalam gereja Salib Suci di seminari itu. Itu terjadi satu tahun sebelum ia menyelesaikan studi teologi. Dengan demikian selama tahun terakhir di seminari, dia bisa membantu dalam pelayanan pastoral di pelbagai paroki. Dalam musim gugur tahun 1876 dia ditunjuk sebagai kooperator dan pengajar di sekolah dalam paroki St. Martin di Thurn, kira-kira 10 km sebelah utara kampung Abtei. Sekolah-sekolah di lembah Gader seluruhnya berada dalam tangan gereja. Dalam musim dingin, dari bulan November sampai April, Freinademetz sebagai kooperator mengajar semua vak, kecuali agama, untuk empat kelas teratas sekolah dasar. Yang mengajar agama ialah bapa pastor sendiri. Pada hari minggu diberikan kursus pembentukan oleh kooperator untuk orang-orang dewasa.
Dengan segenap tenaga Freinademetz menunaikan tugasnya. Tidak heran kalau imam muda yang peramah itu merebut hati anak-anak, murid-murid dan juga orang-orang dewasa. Mereka mengenal dia juga dalam kegiatan pastoral yang dirangkapnya disamping tugasnya sebagai kooperator di sekolah. Pada waktu-waktu tertentu dia duduk dalam tempat pengakuan dan setiap minggu dia berkhotbah. Karena semua khotbahnya dalam paroki St. Martin dan dalam paroki-paroki lain kini dapat dikumpulkan, maka kita bisa mengetahui bahwa dia adalah benar-benar seorang pengkhotbah jamannya. Bukan saja bahwa khotbah-khotbahnya selama satu jam lamanya. Bagi para pendengarnya hal itu biasa dan juga penting, sebab jika tidak demikian, mereka hampir tidak mendengar atau membaca apa-apa lain. Gaya khotbahnya hidup-hidup, penuh dengan kata-kata indah, tapi ia tegas dalam mengajarkan kebenaran. Dalam sekitar 90 khotbahnya ia berbicara hampir setiap kali mengenai dosa, hukuman dan neraka, tapi sering kali sangat konkret kalau ia berbicara mengenai kegembiraan firdaus surgawi. Dengan senang hati pastor paroki menyerahkan tugasnya kepada kooperatornya yang muda itu untuk mengadakan kunjungan-kunjungan yang sangat melelahkan kepada orang-orang sakit atau menerimakan Sakramen Minyak Suci kepada orang-orang sakit yang tinggal di lereng-lereng bukit beberapa ratus meter lebih tinggi dari gereja paroki.
Dalam pelbagai kegiatan sebagai imam, Freinademetz merasa gembira, karena orang-orang setia kepadanya dan mereka boleh dekat padanya melalui bahasa, tata adat kerakyatan mereka serta dalam keyakinan iman mereka yang mesra. Semua ini lambat laun bisa menyebabkan suara Tuhan yang memanggilnya menjadi misionaris, kurang jelas baginya. Namun tak pernah dilupakannya. Kemuidian dia akan mengatakan bahwa di paroki St. Martin hanya mawar-mawar yang tumbuh baginya. Dia sendiri bisa mengatakan bahwa tugas yang diserahkan kepadanya di sini adalah juga karya pelayanan jiwa-jiwa yang tidak kurang pentingnya dibandingkan dengan karya pewartaan Injil di negeri-negeri yang jauh.
Tapi Freinademetz bukan tidak mendengarkan paggilan Tuhan. Dalam proses beatifikasi, banyak saksi-saksi memberikan pernyataan tentang kegiatan Freinademetz dalam paroki St. Martin, bahwa ia menghabiskan banyak jam dengan berdoa di depan tabernakel. Dari Tuhan ia pasrti minta terang untuk mengambil keputusan tentang panggilannya. Pada permulaan tahun 1878, ia membaca sebuah karangan dalam surat kabar dioses Brixen tentang sebuah Rumah Misi yang didirikan pada tahun 1875 di Steyl. Tulisan inilah pada akhirnya membawa keputusan bagi Freinademetz. Ia pun menghubungi Arnoldus Yanssen dan menulis a.l. : "Setelah berulang kali dalam doa saya mohon nasehat pada Hati Yesus yang Mahakudus, dan karena pikiran ini (yakni mengabdikan diriku sebagai misionaris) selalu muncul dengan jelas justru pada waktu berdoa, maka saya berpendapat bahwa saya boleh melihat di dalamnya benar-benar suatu isyarat, bahwa dalam kemurahanNya yang tak terperikan, Tuhan telah menentukan saya untuk tugas yang luhur ini."
Arnoldus Yanssen pun menganjurkan supaya mereka mencari kesempatan untuk bertemu. Dan kesempatan yang mungkin untuk itu ialah waktu ia sendiri kembali dari perjalanan yang pertama ke Roma. Akhirnya kedua orang itu, Arnoldus Yanssen dan Yosef Freinademetz bertemu di biara Kapusin dalam kota keuskupan Brixen. Pada waktu itu pendiri dari Steyl itu demikian terkesan oleh cinta imam muda itu akan Misi dan oleh seluruh pribadinya, sehingga Arnoldus Yanssen dari pihaknya tidak berkebaratan untuk menerimanya dalam Rumah Misi yang dipimpinnya. Uskup Gasser memang pada prinsipnya sudah memberikan persetujuannya, bahwa Freinademetz boleh melepaskan diri dari ikatan dioses untuk menerima tugas sebagai misionaris. Lalu arnoldus Yanssen mengajak Yosef Freinademetz supaya pergi menghadap uskup. Di muka uskup ia mengulangi permohonannya supaya imam diosesan muda itu dibebastugaskan. Dan waktu itulah uskup itu telah mengucapkan kata-kata berikut : "Sebagai uskup Brixen saya katakan TIDAK; tapi sebagai uskup Katolik saya katakan YA! Nah, silakan mengambil puteraku Freinademetz, dan jadikanlah dia seorang misionaris sejati!" Sanak saudara dan juga arekan -rekan imam berusaha membujuk kooperator itu untuk membatalkan niatnya, waktu mereka mendengar bahwa dia akan meninggalkan paroki St. Martin dan dioses Brixen dan bergabung dengan sebuah seminari yang baru didirikan di Belanda; dan bahwa dia akan pergi ke tempat yang jauh sekali, utntuk menobatkan orang-orang kafir!
Freinademetz harus mendengar keberatan-keberatan yang begitu sering dilontarkan : di tanah airnya ada cukup pekerjaan untuk melayani umat. Juga di sini ada cukup banyak orang yang harus ditobatkan! Namun dia tidak ragu-ragu mengenai keputusannya. Terus-terang dia mengatakan : "Saya harus pergi!" Ia menulis kepada orang tuanya dan menyatakan tekadnya : "Bila kamu mengijinkan saya pergi ke tanah Misi, maka saya merasa senang. Bila tidak, maka bagaimanapun saya harus pergi, bahkan kalau saya tahu bahwa saya akan boleh menyelamatkan satu orang saja." Sangat jelas ia bicara tentang panggilan Tuhan kepadanya dan tentang keputusannya untuk mengikuti panggilan itu dalam dua khotbah perpisahan yang dibawakannya pada tanggal 11 Agustus 1878 dalam paroki St. Martin dan delapan hari kemudian di Abtai. "Atas kebaikannya yang tak terselami, Gembala Baik yang Ialhi telah berkenan mengundang saya, supaya pergi bersama Dia mencari domba-domba yang tersesat. Apa yang harus saya buat selain dengan sukacita dan rasa syukur saya mengecup tangan-Nya dan mengucapkan perkataan Kitab Suci : Lihat, saya datang! Dan dengan Abraham saya tinggalkan rumah dan orang-tuaku, kampung halaman dan Anda sekalian, para kekasihku, dan pergi ke tanah yang akan ditunjuk Tuhan kepadaku. Memang saya tahu bahwa saudara-saudara kita di seberang lautan menderita kemelaratan yang luar biasa besarnya. Dengan bercucuran air mata dan dengan mengulurkan tangan kepada kita, mereka minta supaya kita membantu mereka. Bagi saya juga terasa berat meninggalkan orang-tuaku yang tercinta dan begitu banyak penderma dan sahabat. Tapi pada akhirnya, manusia itu ada bukan untuk dunia ini. Dia diciptakan untuk suatu yang lebih besar : bukan untuk menikmati hidup ini, melainkan untuk bekerja di tempat Tuhan memanggilnya".
Selama hidupnya Freinademetz tetap setia kepada keputusan mengenai panggilannya itu, setiap kali kalau ia merasa semakin beratnya pengorbanannya meninggalkan tanah air dan semakin berat ia merasakan kehidupan sebagai misionaris yang penuh dengan kecapaian, kekecewaan dan pelbagai kesulitan lain. Pada perpisahan pertama dengan para kekasihnya dan dengan tumpah darahnya yang begunung-gunung itu, ia sudah merasa berat pada saat ia berangkat ke Steyl, akhir Agustus 1878. Rumah Misi itu terdapat di pinggir sungai Maas, di negeri Belanda yang rata. Freinademetz melukiskan betapa ia diliputi rasa rindu akan kampung halamannya. Sebagai seorang putera dari daerah bergunung-gunung, dia merasa di sini sepi dan bosan di tanah yang rata, tempat bukit-bukit pasir yang tak seberapa tingga dengan cemooh orang menyebutnya gunung-gunung. Juga orang-orang di tempat ini mempunyai sifat yang lain dari bangsa Tirol, tempat asalnya. Bahkan mengenai Pendiri Rumah Misi di Steyl itu, Freinademetz mengakui bahwa agak menakutkannya ketika ia bertemu dengan Arnoldus Yanssen di Brixen. Arnoldus adalah seorang Jerman Utara dengan sifat yang lugu sedangkan Freinademetz seorang Tirol Selatan yang penuh perasaan. Namun sebaliknya ia mengakui bahwa iklim religius dalam rumah komunitas di Steyl yang masih kecil itu, terasa nyaman. Dalam suratnya yang pertama ke rumah dia menulis : "Rumah di sini adalah sungguh Rumah Allah, tempat terdapat roh kesalehan dan takut akan Allah. Saya harus mengatakan dengan jujur apa yang saya lihat dalam dua hari ini, bahwa baik di Kasseaneum maupun di Brixen saya tidak menemukan yang sama seperti di sini."
Pola hidup di jaman Pendiri dari Steyl itu nampak jelas dalam seluruh rumah yakni kesederhanaan, malahan kemiskinan dan disamping kerajinan, semangat doa dan semangat berkorban. Semuanya itu mudah dimengerti, juga oleh anggota-anggota yang muda, karena mereka semua ingin menjadi misionaris. Semangat ini cocok sekali dengan watak Beato Yosef Freinademetz, yang yakin bahwa pola hidup seperti itu perlu untuk seorang yang bakal menjadi misionaris. Di Steyl Freinademetz diserahi tugas terutama membantu sebagai pengajar. Kemudian beberapa dari murid-muridnya akan dijumpainya di daerah misi. Dengan cermat ia menunaikan tugasnya, tentu saja dengan harapan agar dalam waktu dekat dia boleh berangkat ke daerah misi, sesuai dengan panggilan dan kerinduan hatinya. Bahwa untuk itu dia tak perlu menunggu lama, adalah berkat munculnya orang yang akan menjadi rekannya selama banyak tahun hidupnya, yakni Yohann Baptista Anzer. Dia berasal dari dioses Regensburg dalam wilayah Bayern. Sebagai seorang klerikus muda dengan entusiasme bernyala-nyala untuk Misi, dia menggabungkan diri dengan Pendiri serikat Misi di Steyl. Dalam bulan Agustus 1876 dia ditahbiskan imam pertama untuk Rumah Misi itu.
Pada Arnoldus Yanssen dia terus-menerus mendesak supaya dia boleh segera berangkat ke daerah Misi. Dengan datangnya Freinademetz, juga dengan tujuan yang khusus untuk segera diutus ke daerah Misi, maka bagi Arnoldus Yanssen rasanya sudah tiba saatnya untuk memenuhi kerinduan hati mereka. Dan mereka akan diutus sebagai misionaris-misionaris pertama Serikat Sabda Allah ke daerah Misi di Cina. Mgr. Raimondi, Vikaris Apostolik dari Hongkong, yang beberapa tahun sebelumnya memberikan dorongan terakhir kepada Arnoldus Yanssen supaya membuka Rumah Misi, kini bersedia menerima ke dua misionaris dari Steyl itu, sampai mereka diserahi satu daerah sendiri tempat mereka bekerja.
Sementara itu Kongregasi Untuk Penyebaran Iman mengeluarkan izin untuk mereka supaya berangkat. Setelah segala sesuatu disiapkan, maka pada tanggal 2 Maret 1879 untuk pertama kalinya di Steyl dilangsungkan perpisahan dengan dua misionaris yang akan bertolak ke daerah yang jauh. Upacara seperti itu dalam puluhan tahun kemudian akan terus-menerus diulangi. Uskup agung Capri, Internuntius Apostolik di Belanda, berkenan menyerahkan Salib Misi kepada misionaris Anzer dan Freinademetz. Pada hari yang sama juga mereka meninggalkan Steyl. Hanya dalam beberapa bulan Freinademetz mengenal dan menghargai Rmah Misi ini dengan suasana persaudaraan di antara orang-orang yang baik sebagai sama saudara dalam satu keluarga serikat biarawan-misionaris. Masih ada kesempatan berpamit untuk akhir kalinya di rumah dengan familinya. Lalu keduanya berangkat ke Roma. Juga di sini mereka mendapat kesempatan memperoleh berkat dari Paus Leo XII untuk karya perutusan mereka. Lalu pada tanggal 15 Maret 1879 keduanya bertolak dengan kapal dari Ancona, menuju timur jauh.
Takwa Kepada Allah TritunggalPada perayaan pengutusan untuk 80 misionaris dalam bulan Agustus 1927 di Steyl, Nuntius Pacelli, yang kemudian terpilih menjadi Paus Pius XII, dengan tepat mengemukakan tentang "seluruh kekayaan serta keluhuran adikodrati hidup keluarga" di tanah Jerman selama abad kesembilan belas, pada saat Arnold Janssen mengalami masa kanak-kanak dan masa remajanya di Goch, di dataran rendah sungai Rhein. Di kala itu tidak jarang terdapat keluarga Katolik yang mempunyai sepuluh atau lebih anak-anak. Para orang tua mendidik anak-anak mereka dengan perkataan dan teladan dalam kehidupan orang beriman Kristen. Dengan sendirinya terdapat disiplin dan tata aturan yang ketat. Lebih daripada di masa sekarang orang dipaksa oleh keadaan ekonomi zaman itu untuk berhemat.
Hidup keagamaan dalam rumah orang tua
Kehidupan Kristen yang menjadi teladan seperti disebut di atas tedapat dalam keluarga Gerhard Janssen yang berdiam di jalan Frauenstra?e. Bagi bapak Gerhard tidaklah ringan menyelenggarakan kehidupan keluarganya dengan delapan anak yang sudah dewasa. Dia mengelola sebuah pertanian kecil di atas bidang tanah yang sebagian besar disewanya, dengan menggunakan dua ekor kuda. Selain itu dia mempunyai satu usaha pengangkutan kecil. Biasanya dia pergi satu atau dua kali seminggu ke Nijmegen untuk mengangkut barang-barang keperluan sehari-hari dan menghantarnya ke Geldern atau Straelen. Dia adalah seorang yang jujur dan saleh. Menurut pengakuan putranya Wilhelm, bruder Kapusin Juniperus: "Ayah sangat menekankan hal berdoa. Pada memulai setiap pekerjaan bersama, dia selalu berkata: "Semuanya dengan Allah!" Dan ini dilakukannya juga pada pekerjaan di ladang. Kalau pada sore hari kami kembali dari pekerjaan ke rumah, dia mengatakan lagi: 'Sekarang kita diam dan berdoa dan mengucap terima kasih kepada Allah untuk berkat-Nya pada hari ini dan menyesali dosa-dosa kita.' Pada waktu makan siang pada hari Minggu dan hari pesta kami berbicara mengenai khotbah hari itu. Lalu ayah bertanya kepada kami, dan kami mesti menceriterakan apa yang kami masih ingat. Sesudah makan siang ayah membacakan dari buku "Goffines Handpostille', buku Injil dengan keterangan-keterangan. Juga dia suka membacakan dari surat Santo Petrus dan dari hikayat Orang-orang Kudus. Sementara itu ibu memintal benang dan ikut mendengarkan juga".
Anak-anak suka menyebut ibu mereka, Anna Katharina Wellesen, "Ibu Pendoa". Dari bapak Gerhard, yang tutup usia pada 1870, kita tidak punya sebuah foto, sedangkan dari ibu Anna Katharina, yang sering datang ke Steyl dan baru meninggal pada 1891, kita memiliki sebuah foto yang bagus. Dengan sifatnya yang sederhana, rajin dan terutama beriman dan saleh, dia sebagai seorang ibu rumah tangga teladan yang penuh perhatian, dengan tepat melengkapi gambaran bapak Janssen. Tentang ibunya itu Arnoldus menulis sebagai berikut: "Ibuku, adalah seorang wanita yang baik … dia harus menyelesaikan banyak urusan dan pekerjaan, karena kepadanya Allah mengaruniakan begitu banyak anak. Bersama dengan satu-satunya pembantu wanita dia harus mengurus seluruh rumah disamping empat ekor sapi dan sejumlah babi. Dia sangat mencintai doa. Hal itu diperlihatkannya terutama dalam masa keadaannya sebagai seorang janda, ketika oleh perkawinan saudaraku seorang wanita muda masuk dalam rumah kami. Dan sekarang baginya ada kemungkinan untuk menyisihkan lebih banyak waktu untuk doa … Pada hari Minggu dia hampir sepanjang waktu di gereja, dari pagi buta sampai sekitar jam 11.30 dengan selingan waktu sedikit kembali ke rumah untuk sarapan pagi. Demikian juga dibuatnya pada sore hari itu dari jam 14.00 atau 14.30 sampai sekitar jam 16.30 atau 17.00". Bruder Juniperus berceritera juga: kalau kadang-kadang bapak Gerhard atau salah seorang anak berpendapat, bahwa hari ini ibu terlalu banyak kerja dan tentu tidak punya waktu untuk pergi ke gereja, ibu Janssen itu menjawab: "itu hanya omongan kamu! Kalau saya tidak menghadiri Misa, maka saya tidak selesai dengan pekerjaan!" Juniperus berceritera lagi: "Ibu kami sangat menghargai berkat dengan Sakramen Mahakudus. Juga kalau orang harus berjalan satu jam ke gereja - demikian katanya - orang mesti pergi untuk mendapatkan berkat itu. Dia lancar menggunakan banyak pepatah, untuk memberikan kami nasihat-nasihat yang baik dan memberi semangat kepada kami. Sering dia mengatakan misalnya: 'Dengan mulut bersih dan tangan bersih, orang bisa pergi ke seluruh negeri.' -'Barang siapa mengabaikan hal kecil, tidak kuasa dalam hal besar.' - 'Pantang dosa lebih baik daripada pantang roti.' - 'Dengan siapa orang bergaul, dengan dia orang dihormati'. Setiap minggu ibu pergi menerima Sakramen tobat dan juga menerima komuni, padahal waktu itu hanya sedikit orang berbuat begitu".
P. Hermann Fischer menulis dalam biografi Arnold Janssen mengenai pengaruh orang tua terhadap putra mereka Arnoldus Janssen sebagai berikut: "Sangat tepat sifat bapak diwariskan kepada putranya Arnoldus. Pandangan hidupnya yang sungguh-sungguh, disiplin yang ketat, dan bersikeras dalam prinsip, semangat kerja yang tak kenal lelah serta semangat religius yang kuat … semuanya dapat kita temukan kembali pada Arnoldus". Sebaliknya ibu Janssen mempunyai pengaruh yang sangat mendalam pada pembentukan hati dan pada seluruh kecenderungan budinya. Wanita pendiam ini, sederhana dan yang begitu mawas diri telah mewariskan seluruh sifat dan budinya kepada putranya, sehingga dalam kesederhanaan pribadinya serta dalam keheningan dunia batinnya Arnoldus adalah satu gambaran ibunya sendiri".
Arnold Janssen belajar penghormatan yang sama terhadap Allah
Pendirian yang tegas bapak Janssen yang didasarkan pada sikap dasar mengenai takwa kepada Allah, meninggalkan kesan yang mendalam bukan hanya pada Juniperus, melainkan juga pada Arnold. Penghormatan kepada Allah Tritunggal Mahamulia dan khususnya terhadap karya Allah Roh Kudus yang mengagumkan itu dibawanya serta ke dalam kehidupannya. Sebagai satu bukti bahwa semasa mudanya Arnoldus Janssen sudah berdoa dan belajar berdoa dalam semangat ini, ialah sebuah doa malam yang disusunnya untuk keluarga-keluarga sanak-saudaranya dan yang telah diambil alih dan didoakan oleh banyak anggota keluarganya. Mengenai salah satu contoh dari doa-doa malam itu Superior Jenderal menulis pada 1906 sebagai berikut: "Doa malam ini … saya sendiri perkenalkan sebagai doa bersama di dalam rumah orang tua saya dan dalam banyak tahun telah didoakan … Dari ketujuh saudara saya ada lima atau enam yang sudah menghafalnya, dan tiga dari antara mereka tetap memakainya juga sesudah mereka kawin." Entah doa ini benar-benar sudah disusun oleh Arnoldus Janssen sebagai siswa gymnasium pada usia 14 tahun di Gaesdonck, jadi sekitar 1851/52, atau baru pada waktu sebagai imam muda ("paling dini oleh imam muda A. Janssen, jadi sekitar 1861", menurut pendapat P.Albert Rohner - hal itu tetap merupakan suatu dokumen yang sangat mengesankan mengenai sikap batin serta semangat doa Arnold Janssen pada usia mudanya. Tambahan pula kesulitan ini mungkin dapat dipecahkan dengan menerima satu waktu lebih dini, bahwa pada bentuk pertama doa malam dari tahun-tahun 1851/52 Arnoldus Janssen sebagai imam muda kemudian sudah mengadakan perubahan-perubahan dan menambahkan doa-doa tikam tertentu yang dilengkapi dengan indulgensi. Doa itu belum diumumkan seluruhnya. P. Hermann Fischer mencantumkan beberapa kutipan dari doa itu dalam bukunya "Tempel Gottes seid ihr" (Kamu adalah kenisah Allah) terutama dari bagian "Doa umat". Bentuk mulia doa kepada Allah Tritunggal Mahamulia, sebagaimana ditampilkan dalam doa malam ini, pada hemat saya begitu penting bagi semangat Arnoldus Janssen sudah pada tahun-tahun pertama, sehingga saya ingin menambahkan di sini beberapa dari isinya.
Doa malam itu terdiri dari bagian I: Bagian "Pujian dan Syukur" dan mulai dengan kata-kata Kitab Suci: "Kudus, kudus, kudus, Tuhan, Allah segala Kuasa, bumi penuh dengan kemuliaan-Nya! Kemuliaan kepada Bapa! Kemuliaan kepada Putra! Kemuliaan kepada Roh Kudus! Amin." - Ucapan pujian ini diulangi dua kali lagi dalam Bagian I.
Beberapa seruan mulai dengan kata-kata: "Terpujilah ….", misalnya "Terpujilah Yesus Kristus … Nama-Nya yang kudus - Allah dalam para Malaikat dan Orang Kudus-Nya". - Satu kelompok seruan-seruan lain dimulai dengan: "Kami mengucap syukur ….", misalnya "untuk semua anugerah dan rahmat yang diberikan kepada Maria dan semua Orang Kudus pada hari keangkatannya ke surga". Dan selanjutnya: "Kami mempersembahkan kepada-Nya (Tritunggal Mahakudus) - kekuasaan Bapa yang tak terduga, … kebijaksanaan Putra, … cinta kasih Roh Kudus, … kesucian Bunda Allah".
Pada akhir bagian I kita menemukan seruan-seruan pertama dari `Doa perempat jam`: "Ya Allah karena kebenaran sabda-Mu, aku percaya akan Dikau - Tambahkanlah kepercayaanku. Karena kesetiaan-Mu pada janji-janji-Mu, aku berharap pada-Mu - Kuatkanlah harapanku. Karena besarnya kasih-setia-Mu(!) aku mengasihi Dikau - Kobarkanlah cintaku yang dingin".
Sesudah bagian II "Pemeriksaan batin" menyusul dalam bagian III. ("Doa-doa"), yang dimulai kembali dengan tiga kali "Kudus", pernyataan ujud-ujud antara lain: "supaya senantiasa memenuhi kehendak Allah" - "supaya tetap bersatu dengan Allah" - "supaya mencintai hanya Allah" - "supaya melakukan segala sesuatu untuk Allah" - "supaya senantiasa mengenal lebih baik kehendak Allah"
Dalam "Doa Umat" (bagian IV), selain doa untuk sanak-saudara, para sahabat, penderma, pelbagai tingkat dan kelompok dalam Gereja dan Serikat, antara lain juga - dalam satu bentuk yang penting di zaman itu - tercantum doa berikut bagi persatuan kembali umat Kristen yang terpecah-belah: "Tuhan Yesus, Engkau yang menjelang sengsara-Mu telah mohon kepada Bapa-Mu di surga, agar semua orang yang menyebut dirinya dengan Nama Putra-Nya yang Ilahi, bersatu dalam mengakui kebenaran yang telah Kauwahyukan kepada kami dan yang telah Kauserahkan kepada Gereja-Mu supaya kami percaya, berilah, agar kami semua dengan satu suara dan dengan satu hati mengakui dan memuji Nama-Mu yang Ilahi, demikian juga Nama Bapa dan Roh Kudus, sekarang dan selalu dan sepanjang segala abad".
Menyelami lebih dalam - Misteri Allah Tritunggal
Tahun-tahun pertama sebagai imam di Bocholt merupakan suatu persiapan menurut penyelenggaraan Ilahi bagi Alnoldus Janssen untuk tugas hidupnya di kemudian hari oleh mempelajari lebih mendalam kebenaran-kebenaran inti iman kita. Dia adalah seorang pengajar gymnasium yang sangat sibuk dengan 24 jam mengajar dan kadang-kadang masih lebih banyak jam seminggu dia membuat banyak pekerjaan untuk memberikan pengajaran yang baik, dan di samping itu dia membawakan ceramah-ceramah ilmu pengetahuan alam atau menulis karangan-karangan untuk majalah-majalah vak. Kewajibannya sebagai imam ialah pertama-tama merayakan Ekaristi untuk jumlah Misa tertentu yang diperolehnya dari "daerah perwakilan" atau "penderma". Selanjutnya dia membantu secara teratur dalam paroki St. Georg dengan mendengarkan pengakuan dan sebagai pengganti memimpin perayaan ibadat dengan khotbah. Sekaligus dalam tahun-tahun ini dia melengkapkan dan meluaskan pengetahuan teologinya, sebab dia mengalami bahwa studi teologinya yang hanya dua tahun lamanya itu tidak mencukupi.
Tentang itu kemudian hari dia menulis dalam suratnya, tanggal 12.1.1897, kepada Kardinal Led?chwski, dalamnya dia harus membela saudaranya Yohanes melawan tuduhan tentang ucapan-ucapan yang bersifat bidaah, sebagai berikut: "Semasa studi teologi, saya tidak membaca Santo Thomas, sebab pada waktu itu hampir tidak ada di Jerman dan seluruh teologi diajarkan dalam bahasa Jerman. Tapi setelah kemudian - dalam tahun-tahun pertama sebagai imam - saya menemukan 'Summa Theologica" Santo Thomas dalam sebuah perpustakaan, saya terpikat sedemikian oleh cinta kepada Santo Thomas, sehingga mempelajari hampir seluruh Summa itu, dan itu kendati 24 jam pengajaran yang saya harus berikan dalam satu minggu pada sebuah sekolah umum yang disebut di sini 'Realschule'". Pada waktu itu diterbitkan juga buku-buku dari pakar teologi dari K?ln Matthias Scheeben: 1862 "Die Herrlichkeiten der g?ttlichen Gnade" dan terutama 1865 "Die Mysterien des Christentums". Arnold Janssen yang beberapa kali mengunjungi Scheeben, membaca dan mempelajari karya ini dengan minat yang besar, dan dengan demikian pemikiran mengenai misteri-misteri iman semakin memperkokoh di dalam dirinya sikap takwa dan pasrah terhadap Allah Tritunggal yang sudah mendasar sejak dalam rumah orang tuanya. Satu hal yang menarik ialah bahwa Janssen telah menganjurkan bahkan kepada orang-orang awam yang berminat, buku karangan Scheeben "Mysterien des Christentums" sebagai sebuah buku yang mengandung ajaran yang sangat berharga, guna mengenal hubungan intern antara kebenaran-kebenaran paling luhur agama kita dan dengan ajaran tentang Tritunggal Mahakudus. Dalam majalah-majalah rohani kecil dan lembaran-lembaran doa dari tahun-tahun ini, yang diterbitkannya terutama untuk anggota-anggota "Kerasulan Doa" - demikian juga dalam "Buku pedoman untuk Doa bersama" (1871) - Janssen menganjurkan cara berdoa terkenal yang sama, seperti kita kenal dari doa malam untuk kaum remaja. Jadi kita menemukan kembali ungkapan-ungkapan seperti "Kemuliaan Ilahi-Mu", "Tuhan, Allah Mahakuasa", dan lagi-lagi seruan-seruan yang kemudian kita dapat dalam "Doa Perempat-Jam". Dalam "Buku penerimaan anggota-anggota baru" terdapat juga "Doa penyerahan Penebus Tersalib", yang kemudian hari menjadi doa pada setiap hari Jumat bagi komunitas-komunitas SVD selama banyak dasawarsa. Bagian-bagian doa itu tiap kali mulai dengan bentuk meriah: "Marilah kita berdoa kepada Allah, Bapa surgawi: Allah Mahatinggi dan Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, Engkaulah satu-satunya Penguasa yang benar. Kami menyembah keluhuran kebapaan-Mu yang abadi". Demikian juga doa-doa kepada "Allah, Putra Bapa yang kekal", dan kepada Roh Kudus, "Allah Mahatinggi, Roh dan anugerah dari Bapa dan Putra, Engkaulah satu-satunya Penghibur kami yang benar. Kami menyembah kekudusan asal-Mu yang kekal". Lain daripada itu teks-teks lain dari khazanah doa Serikat Sabda Allah dari masa-masa kemudian mengikuti bentuk doa yang sama kepada Allah Tritunggal, misalnya dalam doa pagi: "Aku menyembah Engkau Allah Yang Mahatahu, karena Engkau mengetahui segala sesuatu … Allah Mahaadil … Allah Mahakudus …"
Usaha yang lebih mendalam mengenai teologi dan terpesona oleh keagungan Allah yang menguasai segala-galanya semakin terang membentuk bukan hanya doa Arnoldus Janssen, melainkan mengubah juga seluruh jalan pemikiran dan akhirnya tindakannya. Itulah terutama akibat langsung yang dihasilkan oleh merenungkan dalam iman keagungan Allah: Dia, Tuhan Mahakuasa atas segala sesuatu dan atas hidupku, ingin kupuja dan kuabdi oleh memenuhi kehendak-Nya.
Dan sesungguhnya sekitar 1865 Arnold Janssen, diilhami oleh keagungan Allah, telah mulai menempuh satu arah baru dalam hidup imamnya: untuk lebih giat dalam karya pelayanan imam-pastoral, dia menjadi promotor dan direktur diosesan bagi "Kerasulan Doa" demi menghormati Hati terkudus Yesus. Untuk dapat bekerja dengan leluasa bagi "cita-cita besar Hati terkudus Yesus", dia meninggalkan jabatan pengajar di Bocholt dan menerbitkan majalah Misi "Kleiner Herz-Jesu-Bote". Usaha mendapatkan lebih banyak utusan-utusan iman di Jerman akhirnya mengarahkannya sampai mengetahui panggilan oleh Allah: menjadi pendiri sebuah serikat karya Misi.
Riwayat Hidup Beata Maria Helena StollenwerkHELENA dilahirkan pada tanggal 28 November 1852 di Rollesbroich, sebuah dusun kecil di desa Simmerath di wilayah Eifel. Ayahnya bernama Johann Peter Stollenwerk. Johann Peter dilahirkan pada tanggal 19 Desember 1785. Mulanya dia bekerja sebagai pelaut. Waktu itu wilayah Eifel termasuk daerah miskin dan tidak mampu menjamin nafkah untuk para penduduknya. Sebab itu dalam abad ke-19, 3% penduduknya mengungsi ke Amerika. Di masa kekuasaan para raja Prusia, Eifel dikenal sebagai kantung kemiskinan Prusia. Satu-satunya industri yang ada di sana adalah pabrik tenun di Monschau yang mempekerjakan 6000 orang. Kebanyakan penduduk Eifel tetap tinggal di kampungnya. Karena itu para pelaut dari kampung itu merupakan kaum terdidik, sebab dalam pelayaran mereka mendengar banyak hal baru. Pada tanggal 16 Juli 1807 Johann Peter Stollenwerk menikahi Anna Katharina Stollenwerk, putri seorang pelaut. Menurut kitab hukum Napoleon yang berlaku waktu itu, Johann Peter yang berusia 22 tahun masih termasuk belum dewasa dan karena itu dia membutuhkan persetujuan keluarganya untuk menikah. Sesudah menikah dia pindah dari Witzerath ke kampung tetangga, Rollesbroich. Dia tetap tinggal dalam paroki yang sama. Dari perkawinan ini dia dikaruniai 9 anak. Tiga diantaranya bisu tuli.
Mulai tahun 1816 Johann Peter Stollenwerk bekerja sebagai "petani". Rupanya dia cukup berbakat sebagai petani. Sebab kekayaannya bertambah cukup cepat. Dia sering membeli lahan baru dan membangun untuk putra-putrinya beberapa rumah. Di tengah situasi di mana banyak orang terpaksa meninggalkan wilayah Eifel untuk beremigrasi ke Amerika Utara atau Amerika Selatan, Johann Peter Stollenwerk justru berhasil mengumpulkan sejumlah kekayaan. Tetapi kekayaan itu relatif, sebab daerah sekitar Simmerath terkenal tidak subur dan mempunyai iklim yang tak menguntungkan. Walau demikian, dalam surat lamarannya Helena menekankan, bahwa dia berasal dari sebuah keluarga berada. Seandainya dia menikah, dia pasti mendapat pemberian yang cukup dari keluarganya sebagai modal awal. Sebab itu dia tidak perlu masuk biara, kalau itu hanya untuk mencari situasi hidup yang lebih baik. Karena itu dapat dipastikan, bahwa dia didorong oleh kerinduan yang lain.
Tahun 1833 istri pertama Johann Peter Stollenwerk meninggal. Pada tanggal 18 Agustus 1836 dia menikahi janda Anna Barbara Stollenwerk yang masih mempunyai hubungan keluarga dengannya. Dia sudah pernah menikah dan sejak 1835 menjadi seorang janda. Dari pernikahan pertamanya dia tidak mempunyai anak. Tahun 1851 istri kedua Johann Peter ini pun meninggal. Maka dia pun menikah untuk ketiga kalinya. Pernikahan ketiga terjadi pada tanggal 22 Januari 1852 dengan Anna Maria Borngard. Pada tanggal 28 Nopember 1852 Anna Maria melahirkan seorang bayi, Anna Helena, yang dipanggil Helena. Pada saat kelahirannya, sang ayah sudah berusia 67 tahun, sementara ibunya baru berusia 27 tahun. Helena merupakan seorang anak pendiam. Hal ini dapat dimengerti kalau kita memperhatikan situasi keluarganya. Saudara/i tirinya jauh lebih tua darinya, malah mereka sudah bisa menjadi orangtuanya sendiri. Ayahnya sendiri lebih tampak sebagai kakeknya. Jarak usia antara mereka terlalu besar, sehingga Helena tidak mempunyai hubungan batin dengannya. Selain itu ayahnya sering bekerja di luar rumah. Sebab itu Helena tidak banyak mengalaminya. Johann Peter Stollenwerk memang sangat aktif baik di bidang politik maupun gerejani. Pada tahun 1852 dia ditunjuk oleh pemerintah wilayah di Aachen untuk menjadi wakil kepala desa di Simmerath. Di paroki dia memegang beberapa jabatan. Dia sangat berjasa dalam pembangunan sebuah gereja di Rollesbroich. Pembangunan itu merupakan langkah penting yang perlahan mengantar Rollesbroich menjadi paroki sendiri.
Tahun 1855 Helena mendapat seorang saudari, Carolina. Tetapi dia hanya berusia empat tahun. Dia meninggal pada tahun 1859, tiga bulan setelah ayahnya sendiri meninggal. Helena sendiri berusia 7 tahun waktu ayahnya meninggal pada tanggal 27 Mei 1859. Agaknya dari Johann Peter Stollenwerk, Helena belajar untuk turut bertanggung jawab atas orang lain. Demikian pula kesediaan untuk mengorbankan diri bagi orang lain dan tekad untuk tetap menekuni jalan yang sudah dimulai. Namun dia toh tidak memiliki hubungan pribadi dengan ayahnya. Kematian sang ayah yang terlalu cepat dan saudari tunggalnya menimbulkan pergolakan batin dalam diri Helena. Sejak saat itu dia senantiasa memikirkan tentang nasib anak-anak kusta di Cina. Saat itu muncullah minatnya akan bermisi nun jauh di Cina.
Setelah meninggalnya sang ayah, kini ibu sendirilah yang harus memecahkan persoalan tentang masa depannya sendiri dan masa depan anak-anaknya. Setelah berpikir dan merenung beberapa waktu akhirnya dia memutuskan untuk sekali lagi menikah. Maka pada tanggal 24 Nopember 1860 dia menikahi si duda Johann Peter Breuer (1814-1894), yang sudah mempunyai tiga anak gadis dari istri pertamanya. Mereka ini mempunyai hubungan batin yang lebih dekat dengan Helena daripada saudara-saudari tirinya yang lain dari istri pertama ayah Helena. Mereka saling mengerti. Helena mengalami mereka sebagai saudari sendiri. Juga dengan ayah tirinya Helena mempunyai hubungan yang baik. Dalam surat-suratnya yang ditulis dari Steyl untuk orang tuanya terungkap cintanya akan ibu dan ayah. Dan ayah tirinyalah yang bisaanya membalas surat-suratnya. Tanggung jawab ayah tirinya itu akan keluarga berakar dalam keyakinan iman yang dalam dan sehat. Dia mencintai Helena, seolah dia adalah ayah kandungnya sendiri.
Helena lahir dan bertumbuh dalam situasi keluarga yang kompleks. Ayah kandungnya dialaminya hanya 7 tahun. Saudara-saudarinya sudah terlalu tua, sehingga dia tidak dapat menjalin kontak batin dengan mereka. Gadis-gadis yang paling dekat dengannya berasal dari perkawinan lain. Dia tidak mengalami masa kecil yang indah. Sejak kecil Helena sudah dilatih untuk selalu memperhatikan dan mendamaikan kelompok dan minat yang berbeda. Lagi pula dia masih mempunyai tiga kakak tiri yang cacad. Seorang saudari tiri yang bisu tuli tetap tinggal di rumah sesudah bapa dan ibunya meninggal, dan Helena pun harus turut merawatnya. Ibu kandungnya sendiri masih melahirkan seorang putri dari perkawinannya yang kedua, Anna Maria (1863-1933). Helena punya hubungan yang akrab dengan putri-putri ibu tirinya.
Perkembangan Religius
Keluarga Helena adalah sebuah keluarga Kristen. Pada paro kedua abad ke-19 Gereja berkembang pesat dimana-mana. Banyak paroki baru dibentuk. Di hampir semua paroki kehidupan gerejani dan liturgis bertumbuh secara intensif. Helena menjadi besar di tengah sebuah jemaat yang hidup. Dia ikut serta dalam perayaan ekaristi mingguan dan pada pelajaran agama sekolah minggu pada sore harinya. Yang paling menarik minatnya adalah Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus. Kelompok ini didirikan pada tahun 1843 oleh Uskup dari Nancy dan Toul dan bertujuan menarik dan membina minat anak-anak untuk merasa senasib dan solider dengan teman-teman sebayanya di tanah-tanah misi. Pada tahun-tahun pertama Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus terutama membantu karya misi di Cina, sejak 1849 juga misi Afrika. Perkumpulan ini menerbitkan empat kali setahun sebuah majalah yang memuat pengalaman para misionaris. Helena selalu rajin membaca majalah ini. Melalui majalah ini dia pun perlahan mengenal dunia luas, sebab masa sekolahnya lebih merupakan sebuah masa kesempitan. Pada waktu itu raja Prusia, Fredrich Wilhelm IV, membatasi pelajaran di sekolah hanya pada tiga teknik dasar: membaca, menulis dan sedikit berhitung. Selain itu pelajaran agama diberi setiap hari. Tetapi dalam jadwal pelajaran tidak tercantum geografi ataupun sejarah. Si Raja hendak membodohkan rakyatnya. Sebab dia berpendapat, bahwa pendidikan yang liberal turut berperan dalam meletusnya revolusi 1848, bahwa rakyat yang tidak terdidik tidak akan aktif secara sosial dan politis. Helena sangat menderita dalam hidupnya karena pendidikan sekolah yang terbatas ini. Kadang-kadang dia berpendapat, pendidikan yang buruk inilah yang menghambatnya untuk mempelajari sebuah bahasa baru dan dengan demikian bisa ke tanah misi.
Di tengah sempitnya horizon pendidikan ini, Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus dengan majalahnya membuka wawasan Helena bagi dunia luas. Di tengah kedangkalan pelajaran sekolah, Gereja membuka wawasan masyarakat terhadap kemajemukan dan kebebasan dengan menyebarkan pengalaman-pengalaman para misionaris dari tanah-tanah misi. Dalam terbitan khusus tahunan, Helena membaca kisah-kisah menarik tentang anak-anak di Cina yang ditinggalkan sendirian di dalam Lumpur. Dengan ini dia dapat memecahkan kesehariannya yang monoton dan belajar lebih banyak. Pada waktu itu tidak ada banyak bahan bacaan untuk keluarga-keluarga petani di desa-desa. Sebab itu Helena sangat rajin membolak-balik majalah-majalah dari Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus. Dari bacaan itu dia pun bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam dunia. Horison yang sempit perlahan dibuka.
Gereja abad ke-19 memang hidup berkat keaktifan berbagai kelompok dan perkumpulan. Dengan demikian Gereja dapat melawan Negara yang liberal. Dengan adanya perkumpulan dan kelompok-kelompok tersebut muncullah pemikiran yang lebih luas, yang mempertanyakan struktur Negara yang otoriter. Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus pun mempunyai misi untuk menyadarkan anak-anak, bahwa mereka sebenarnya patut bersyukur menjadi anggota Gereja, bahwa mereka bukan cuma warga dan bawahan sebuah Negara, melainkan anggota Gereja sejagad. Selain itu Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus pun mau menanamkan dalam diri anak-anak solidaritas dengan anak-anak lain di seluruh dunia. Dia hendak menembusi kesempitan penguasaan Prusia dan membangkitkan rasa solidaritas dengan orang-orang yang menderita di Negara-negara lain. Secara khusus Perkumpulan ini hendak menanamkan tanggung jawab, bahwa orang-orang tanpa iman kristiani ini sangat membutuhkan pewartaan Kristen.
Dalam peninggalan tertulisnya Helena tidak banyak menyinggung kehidupan liturgis paroki. Baginya, kehidupan iman berputar sekitar keaktifannya dalam Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus. Di sini dia mendapat dan menemukan bentuk religiositasnya. Apa yang dibacanya mengagumkannya sedemikian rupa, sehingga dia pun bermimpi tentangnya. Setiap tanggal 28 Desember Perkumpulan Kanak-Kanak Yesus merayakan pestanya. Agaknya pesta ini dirayakan sangat meriah, sehingga membekas lama dalam ingatan anak-anak. Selain itu dikarang juga lagu-lagu. Sebagiannya dicetak dalam kumpulan lagu-lagu, misalnya "O du liebes Jesuskind". Lagu-lagu itu cocok dengan perasaan dan wawasan anak-anak. Untuk kita zaman ini, lagu-lagu itu terlalu kekanak-kanakan. Namun dulu lagu-lagu itu mempunyai pengaruh mendalam untuk anak-anak. Dalam ibadat dibuat undian. Siapa yang menang akan menjadi ibu atau bapa permandian untuk seorang anak di tanah misi, yang akan dipermandikan dengan nama si pemenang undian. Ketika Helena baru berusia 7 tahun, dia masih dilarang ibunya untuk menempuh jalan yang agak jauh ke Simmerath, sebab terdapat terlalu banyak salju. Helena sendiri menulis, bahwa larangan ini sangat menyakitkannya. "Namun ketika sekolah hampir usai dan anggota-anggota Perkumpulan yang lebih tua sudah kembali dari Simmerath, mereka menceritakan, bahwa saya menjadi ibu pemandian untuk seorang anak di tanah misi. Saya sangat gembira mendengar berita itu dan tidak merasa sedih lagi".
|
 |
|
|
|
|
|
|